Senin, 29 April 2013

Misteri Hantu Wanita di Taman Durand Eastman



Kisah seram menyelimuti keindahan Taman Durand Eastman yang terletak di Rochester, New York. Pasalnya kerap terjadi penampakan sosok wanita putih (white lady) di sekitar areal taman. Biasanya penampakan sosok wanita tersebut saat kabut mulai menutupi areal taman di malam hari.

Seperti dilansir lama paranormal, sosok hantu tersebut merupakan jelmaan seorang ibu yang hidup pada tahun 1800-an yang putus asa karena putri tunggalnya hilang misterius. Sang ibu yakin putri menjadi korban pembunuhan dan pemerkosaan tetangganya yang seorang petani.

Namun Sang ibu tidak bisa membuktikan tuduhannya tersebut. Sambil menuntun anjing peliharaannya, sang ibu terus mencari-cari jasad putrinya yang menghilang. Di tengah rasa putus asa, sang ibu memutuskan bunuh diri dengan melompat dari tebing tinggi ke danau Ontario.

Sejak saat itu, sosok wanita itu kerap menghantui wilayah di sekitar lokasi tempatnya bunuh diri. Kadang-kadang dalam penampakannya, sang wanita itu ditemani sosok anjing peliharannya. Meski kerap menampakkan diri, namun sosok wanita itu tidak berniat mengganggu warga sekitar.

Meski demikian, sosok wanita putih itu terkadang menjahili seorang pria yang melakukan tindakan tidak pantas di sekitar taman. Seperti menggoyang-goyangkan mobil seserang. Bahkan diceritakan seorang pria dikejar-kejar oleh hantu wanita putih hingga tercebur ke danau.

Banyak yang tidak percaya dengan keberadaan hantu ini dan dianggap hanya legenda lokal yang tidak berdasar. Namun seorang warga sekitar mengaku pernah melihat penampakan hantu wanita putih tersebut. “Saya pernah melihat hantu wanita putih itu sekitar jam 12 malam,” kata Maggie.

“Ini terjadi pada 11 Agustus 1996. Saat itu saya sedang berjalan menyusuri Alexander Avenue, ketika saya melihat kabut putih padat turun dari pohon. Dan tiba-toba awan tebal putih berbentuk seorang wanita putih dengan rambut putih panjang dan gaun putih panjang muncul,” kata Maggie yang tinggal di Farmingdale, New York.

“Dia mengambang dan saya tidak bisa melihat apa pun di bawah lututnya. Dia juga transparan. Dia kemudian menatapku tajam selanjutnya melayang melintasi halaman depan dan akhirnya sosok wanita putih itu memudar,” ujarnya.

Gerbang menuju surga ada di China



Tak mengherankan jika Gunung Tianmen di China disebut heaven gate atau gerbang surga. Gunung ini memiliki ketinggian 131 meter dan kedalaman 60 meter. Karena ketinggiannya beserta lubang besar yang ada di gunung ini, Tianmen lebih menyerupai gerbang ke langit, yang diidentikkan dengan surga.

Tianmen berlokasi di kota Zhangjiaje, tujuh kilometer dari pusat kota. Biasanya, para petualang memilih untuk mendaki gunung tersebut, sementara para turis menggunakan taksi atau mobil untuk melewatinya. Pengunjung yang datang ke sana juga bisa menggunakan fasilitas mobil kabel dengan panjang 7.455 meter untuk mencapai puncak.

Gunung ini memiliki gua yang dipercaya terbentuk pada 263 Masehi. Gunung Tianmen juga memiliki kuil berusia 500 tahun yang disebut kuil Tianmenshan. Kuil yang terletak di atas gunung ini biasanya digunakan untuk bersembahyang oleh masyarakat di China, seperti dilansir oleh Cultural China (25/03).

Heaven Gate Mountain memiliki 80 persen vegetasi yang menyelimutinya. Di sana tumbuh 556 spesies tumbuhan dan 433 spesies kayu. Pohon berusia 2.000 tahun juga menjadi penambah keindahan gerbang surga di Tianmen. Tak hanya itu, di sekitar gerbang surga Tianmen juga tumbuh 462 spesies tanaman obat. Sekitar 300 spesies fauna termasuk 200 spesies hewan dan 100 spesies burun juga tinggal di gunung Tianmen.

Inilah bentuk gerbang surga yang ada di Gunung Tianmen, China. Tempat ini merupakan lokasi wisata yang layak didatangi sekali seumur hidup.

Minggu, 21 April 2013

Setan Di Sekolah


Perkenalkan nama saya Adam. aku ingin berbagi pengalaman mistik ku pengalaman ini terjadi saat aku duduk di kelas 5sd. mulai ke cerita, aku bersekolah di SDN 03 ALAI PADANG. sekolah ini dulu bekas kuburan org belanda setelah itu menjadi rumah sakit umum dan sekarang menjadi sekolah. kita mulai, saat aku sdg belajar, ibuk guru keluar kls yg lumayan lama. aku bermain di kelas bersama teman temanku (biasa namanya juga ank kecil). sekitar 1 jam dtg seorang guru yg memberitahukan kami bahwa ibuk guru kami pingsan mendadak.setelah 1 minggu ibuk guru kami tdk msk. setelah itu aku dan teman teman menjenguk ibuk guru kami. kami berbincang bincang dengan ibuk guru kami dan salah satu teman ku namanya udin(samaran) menanyakan kpd ibuk guruku :
udin:" buk knp kemarin bisa pingsan buk?"(dlm bahasa minang)
buk guru ku hanya terdiam. tak berapa lama dtg seorang ank ibuk guru ku yg bernama ojik (samaran).
ojik:" ibuk kalian itu pingsan karna lihat hantu"(dlm bahasa minang)
udin:"kyk mana bentuk nya bg???"(dlm bahasa minang)
ojik:"dia itu bertanduk, pakai baju hitam, muka hancur dan berlumuran darah"(dlm bahasa minang)
udin:" iya benar buk"(dlm bahasa minang)
ibuk guru:"iya, tapi jangan bilang ke siapa siapa selain kta ya!!"
semua:" iya buk!!"
dan kami pun pamit plg. stelah beberapa hari beberapa tmn kami kesurupan dengan serentak. mereka melihat sama persis dengan yg ibu guru kmi lihat di taman sekolah kami.besok saya mengikuti persami di lapangan skolah selama 1 hari. saat sore hari tdk ada terjadi apa apa.saat malam sesudah magrib suasana mencekram. walaupun sudah dihidupin lampu masih saja suasana nya mencekram. pada jam 09.30(kalo gk salah) si udin minta temanin ke wc. si udin, aku berseta 2 teman ku izin sama pembina. kata pembinaku jangan tinggalin temanya sendiri di wc. lalu kami nemanin ke wc.saat di wc itu mulailah kejanggalan terjadi. angin bertiup kencang ke kuduk ku. wc itu gelap tdk ada lampu. kami hanya mengandalkan senter hp. saat si udin selesai buang air kecil, kami lihat di ujung wc yg tidak asing di mata kita yaitu miss. kunti dengan baju seba putih , rambut panjang dan senyum manisnya yg jadi chiri khasnya. kami menatap nya selma kurang lebih satu menit karna badan kami terasa membeku dan teriak saja kami nggak bisa. setelah saya berightifar di dalam hati miss kunti itu menghilang dan badan kami bisa di gerakan kembali. karna kami masi shok
kami keluarkan jurus langkah seribu taman sekolah. kebetulan wc sama taman dekat. setelah kami duduk duduk di taman menghilangkan rasa shok kami. sdg asik asik duduk kami melihat yg dilihat ibuk guru kami dengan tinggi badan kurang lebih 2 meter , pakai tanduk, serta pakaian serba hitam dan matanya yg tajam dan merah yg melotot kpd kami. kami ber empat langsung pingsan di tkp. pada pagi harinya kami sudah ada di rumah masing masing. aku menceritakan kejadian itu kpd ortu ku. sampai disini dulu cerita ku. ini kejadia 100% ASLI yg aku alami. kalau ada penulisan yg salah atau kurang serem tlg di maafkan

Minggu, 07 April 2013

Bus Setan

Bus ini memang cukup terkenal di kalangan masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian Timur. Armada bus ini terkenal karena kebiasaan ugal-ugalannya. Selain itu, angka kecelakaannya juga termasuk tinggi. Tak heran nama Sumber Kencono ini sering dipelesetkan oleh masyarakat menjadi “Sumber Bencono” alias “sumber bencana”. Bahkan, suatu ketika bus ini pernah dibakar di Ngawi oleh massa karena menabrak pengendara sepeda motor hingga tewas. Mungkin karena ingin mengubah image, nama armada ini akhirnya diganti menjadi seperti itu (Sumber Selamat).

Dingin, aku merapatkan jaketku. Entah sudah berapa batang rokok yang kuhabiskan menunggu bis sialan ini. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mataku sampai bosan melihat ke arah jembatan layang Janti. Sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, bener-bener brengsek, tak satupun bis yang mau berhenti. Mana sendirian pula, jadi agak-agak merinding, campuran antara takut ada preman kesasar sama aroma mistis malem Jumat Kliwon yang dikenal orang Jawa sebagai malam keramat.

Dari arah barat kulihat sepeda motor melambat, nampaknya dia mau nunggu bis juga. Yang dibonceng seorang pemuda gondrong dengan jaket bergambar lambang salah satu perguruan tinggi di ringroad utara, dia turun sambil melepaskan helmnya.

"Ati-ati dab!" Si pengendara motor muter balik sambil melambaikan tangannya.
Lumayan, ada barengan di sini, minimal kalo sampe ada yang mau malak bisa kabur ke arah berlainan biar premannya bingung mau ngejar yang mana.

Ndak usah ketawa, aku males berantem sama orang ndak mikir masa depan macem preman jalanan, sedikit trauma juga gara-gara dulu waktu ribut sama preman mereka seenaknya ngeluarin pisau. Lha siapapun yang kena kan pasti berurusan sama polisi, dia mungkin mikirnya masuk tahanan ndak masalah, bisa makan gratis. Kalo aku? Bisa digebuki bapakku!

"Mau pulang ke mana Mas?" Sapaku mencoba beramah tamah.
Blah! Sombong sekali mas satu ini, berapa kali aku menyapa tak sekalipun dia menjawab, pura-pura gak denger, sok-sok sibuk ngliat arah datangnya bis di arah jembatan layang. Ini mungkin yang pernah dibilang Simbah di kampung, wong Jowo ilang Jowone, sudah ndak tau tata krama.

Untunglah tak berapa lama kemudian bisnya datang, Sumber Kencono, bis legendaris jurusan Jogja-Surabaya, dan kali ini bisnya mau berhenti. Si Mas gondrong naik duluan, eh lha kok aku baru naik satu kaki si bisnya udah jalan lagi, bener-bener gak sopan! Tapi mungkin memang sudah jadi kebiasaan, karena jadwal keberangkatan antar bis yang kadang cuma selisih 5 menit membuat mereka ndak bisa berhenti lama-lama, kuatir mepet sama yang belakang.

Tumben baru sampe Janti saja bisnya sudah penuh, ada satu dua kursi yang kapasitasnya tiga orang baru ditempati dua orang tapi penumpang yang di situ gak ada yang menawarkan tempat duduk padaku. Lebih tepatnya mereka gak bereaksi apapun saat aku permisi mau duduk. Blah! Makin lama makin keterlaluan orang-orang ini, terbiasa hidup sendiri-sendiri mungkin, sudah hilang segala macam ramah tamah yang konon dulu pernah jadi salah satu ciri orang sini.

Untung ada tiga kursi kosong di bangku paling belakang, tak perlu permisi, lega juga, bisa naikin kaki, mungkin sambil klebas-klebus ngrokok untuk mengusir bosan nanti. Peduli setan sama orang-orang bakal terganggu atau tidak, wong mereka disapa gak menyahut, harusnya diganggu juga gak protes! Sekarang yang penting merem dulu, kompensasi dari berdiri hampir dua jam waktu nunggu bis tadi.

Bis sudah melaju sampai daerah Kalasan, biasanya di sini kondektur sudah narik bayaran dari semua penumpang, tapi heran, kok dari tadi gak ada yang njawil padahal duit sudah aku siapkan. Terserah lah, kalo nanti gak mbayar ya malah bersukur tho.

Tunggu dulu, sunyi waktu naik bis di malam hari sudah biasa, tapi sepertinya yang sekarang ini terlalu sunyi. Mungkin ada satu dua celoteh pelan terdengar, tapi kenapa dari tadi ekspresi orang-orang ini terlalu datar? Lebih tepatnya gak ada ekspresi yang tergambar di wajah. Bahkan orang di sebelahku pun seperti gak merasakan kehadiranku.

Aku jadi sedikit merinding, dulu mbakyuku pernah bilang, kalo malem jangan nunggu bis dari janti, lebih baik dari terminal saja karena konon ada bis hantu yang suka ngambil penumpang di situ.

Bis hantu?

Iya, bis hantu. Selentingan kabar mengatakan bis ini mengalami kecelakaan parah dan semua penumpangnya tewas, waktu kita naik itu semua penumpangnya berwajah pucat dan tidak menghiraukan kehadiran kita. Konon kalo naik bis itu dari Jogja bisa sampai ke Surabaya dalam waktu gak sampai tiga jam, tapi kalo lagi gak beruntung bisa juga gak sampai Surabaya, kita malah dibawa ke alam antah-berantah. Lebih celaka lagi katanya bis hantu itu Sumber Kencono yang memang terkenal suka kebut-kebutan.

"Mas, Sampeyan mau turun mana?" Aku mencoba menyapa penumpang di sebelah, sekaligus mengusir rasa penasaran, masa iya ada bis hantu.

Dia gak menjawab, lebih tepatnya bereaksi seperti semua orang yang dari tadi kusapa, gak ada ekspresi. Ini mulai menakutkan. Kucoba menepuk bahunya agar dia menanggapi sapaanku. Sial! Tanganku menembus bahunya! Dia tidak nyata, dia bukan manusia!

"Pak! Kiri pak! Saya turun sini!" Teriakku panik, tapi mereka tetap dingin tanpa ekspresi.

Sialan! Mungkinkah aku akan terbawa ke alam gaib seperti yang orang-orang pernah ceritakan? Bulu kudukku merinding, badanku terasa dingin. Tapi percuma panik sekarang, aku mencoba mengingat doa-doa yang diajarkan Simbah dulu, sial, lupa semua!

Hampir tanpa sadar, aku meraih sebatang rokok, kunyalakan perlahan dan kuhisap dalam-dalam untuk mengusir tegang.

"Cak, kok bisnya bau kemenyan?" Penumpang di sebelahku mendadak menutup hidung, menatap lurus seakan menembusku dan bertanya pada kenek yang berdiri di pintu belakang.

"Gak papa Mas, kadang memang suka tercium bau kemenyan. Katanya dulu di Janti situ pernah ada penumpang lagi nunggu bis meninggal ditusuk waktu ribut sama preman, kalo malem Jumat Kliwon kayak sekarang ini katanya dia suka ikut naik bis. Kasian, mungkin matinya gak tenang."