Selasa, 29 Januari 2013
Hantu Di Ruang Bawah Tanah
Saat aku dan keluargaku pindah ke rumah baru kami sepuluh tahun yang lalu, kami benar-benar tidak pernah tahu tentang sejarah rumah itu. Yang kami ketahui, pemilik sebelumnya adalah seorang penulis yang tinggal seorang diri dan kemudian memutuskan untuk menjual rumah itu dan pindah ke kota lain. Harga rumah itu cukup mahal. Diatas harga rata-rata rumah pada umumnya di masa itu. Tapi orangtuaku langsung jatuh cinta pada 'pandangan pertama' saat melihat rumah itu. Rumah itu bergaya belanda dengan cat putih yang mengkilap dan dua buah jendela besar dilantai tiga. Rumah itu memiliki empat teras untuk duduk bersantai disore hari. Dan satu lagi, rumah itu memiliki ruang bawah tanah yang cukup luas. Pemilik sebelumnya memfungsikan ruang bawah tanah itu sebagai gudang teempat dia menyimpan berbagai macam barang-barang yang sudah tidak dipakainya. Saat ayahku memutuskan untuk membeli rumah itu, si pemilik rumah memutuskan untuk 'mewariskan' barang-barang di gudangnya untuk kami. Begitu kami menempati rumah itu, ruang bawah tanah tersebut langsung disulap oleh ayahku menjadi ruang bermain billiard dan ruang mencuci pakaian. Hampir setiap malam kami berempat menghabiskan waktu di dalam sana untuk bermain billiard. Saudaraku, Billy dan kedua orang tuaku menyukai ruang bawah tanah itu. Mereka menyebutnya sebagai 'ruang sejuk' karena suhu udara didalamnya yang tetap sejuk walaupun di musim panas yang menyengat. Tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh pada ruang bawah tanah itu sejak pertama kali kami pindah. Ruang bawah tanah itu begitu luas sehingga ada beberapa bagiannya yang tidak terpakai sama sekali. Barang-barang bekas pemilik sebelumnya dibiarkan saja oleh ayahku. Tumpukan rak-rak buku tua dan peralatan-peralatan logam tua berserakan dan saling menumpuk disebelah selatan ruang bawah tanah itu. Hanya ruang bermain billiard dan ruang mencuci yang diberi penerangan. Bagian paling dalam dari ruang bawah tanah itu dibiarkan gelap begitu saja. Terkadang saat aku sedang berada di dalam ruang bawah tanah itu, aku sesekali akan menengok kedalam kegelapan ruangan yang tidak terpakai itu dan merinding. Aku merasa seakan-akan ada sesuatu di dalam sana yang sedang mengamati kami. Sesuatu itu menunggu dengan sabar, memata-matai kami. Pikiran itu sering membuatku menjadi takut dan aku hampir tidak pernah mau berada di dalam sana seorang diri. Suatu malam musim panas yang gerah, aku dan adikku Billy memutuskan bahwa kami sudah tidak sanggup lagi menghadapi suhu udara yang membuat kami lemas dan pusing. Aku menantang Billy untuk bermain billiard denganku sementara ibu kami menyiapkan makan malam di dapur. Biasanya ayah kami ikut bermain sambil menunggu makan malam telah siap, tapi hari itu ayahku sedang bertugas diluar kota dan baru akan kembali keesokan harinya. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku dan Billy turun kedalam ruang bawah tanah itu dan langsung disambut oleh hawa dingin yang menyejukkan. Memang tidak salah kalau kami menyebutnya ruang sejuk. Kami bermain selama beberapa menit. Aku baru saja memasukkan bola bernomor sembilan ketika tiba-tiba lampu di ruang bawah tanah itu tiba-tiba padam. Billy memekik tertahan. Aku tahu dia takut pada gelap. Sumber cahaya kami hanya berasal dari celah dipintu ruang bawah tanah yang sedikit terbuka diatas tangga.
''Huss, tenang Billy. Aku akan mencari senter diatas. Tunggu disini'' kataku pada adikku.
''Tidak. Jangan tinggalkan aku disini sendirian,Andy!'' rengeknya.
''Dasar kau bayi simpanse cengeng'' kataku. Biasanya dia marah-marah kalau aku mengatainya seperti itu, tapi kali ini dia hanya meremas lenganku dengan keras. Dia benar-benar ketakutan, aku jadi iba melihatnya.
''Ok, tunggu disini. Aku ingat kemaren melihat lilin disekitar sini'' kataku sambil melangkah dengan pelan kedalam kegelapan ruang bawah tanah itu. Billy menempel erat dipunggungku persis seperti seekor bayi simpanse.
Saat itulah kami mendengar suara menyeramkan itu. Langkahku langsung terhenti. Billy mencengkeram lenganku semakin kencang. Dia juga mendengarnya. Kami mendengar bunyi berkeretekan seperti suara napas tertahan dan tersendat-sendat panjang. Kami menyadari bahwa kami tidak sendirian di dalam kegelapan ruang bawah tanah itu.
Aku dan Billy langsung berlari terbirit-birit keatas sambil menjerit-jerit sejadi-jadinya. Kami hampir saja terjatuh saat berlari menaiki tangga menuju lantai atas.
Ibuku yang sedang memasak di dapur langsung tergopoh-gopoh mencari tahu apa yang terjadi begitu mendengar jeritan kami. Aku melihatnya sedang berlari kecil tergesa-gesa kearah kami saat kami berhasil keluar dari ruang bawah tanah itu. Begitu dia berada dalam jangkauan kami, aku dan Billy langsung memeluknya erat-erat masih dengan napas terengah-engah.
''Ada apa??? Apa yang terjadi??? Kenapa kalian menjerit-jerit seperti itu??'' tanya Ibuku dengan heran.
Napas kami masih tersengal-sengal saat kami berebutan untuk menjawab pertanyaan itu.
''Ruang... Bawah... Tanah... Suara... Ada... Sesuatu...'' kataku terputus-putus.
''Takut... Takut...'' pekik adikku sambil terisak-isak. Ibuku lalu membawa kami ke luar rumah lalu mendudukkan kami di kursi teras.
''Apa yang kalian lihat?'' tanya Ibuku sambil memberi kami segelas air minum.
''Gelap... Kami tidak bisa melihat apa-apa. Lampunya tiba-tiba padam. Saat aku mencoba untuk mencari lilin kami mendengar sesuatu di dalam sana'' tukasku, akhirnya napasku berangsur-angsur menjadi normal.
Ibuku mengerutkan kening dengan bingung melihat tubuh kami yang gemetaran dan wajah kami yang pucat dan basah oleh keringat.
''Tunggu disini.'' kata Ibuku. Dia langsung masuk ke dalam rumah.
''Jangan, jangan masuk kedalam sana, Ma!!!'' teriakku sambil menarik tangannya dengan tidak percaya. Ibuku menatapku tanpa berkedip.
''Andy, kalian terlalu sering membaca cerita-cerita seram. Kalian membiarkan imajinasi kalian bermain terlalu jauh. Ibu akan turun ke dalam sana dan memeriksa. Mungkin saja itu tupai atau kucing yang menyelinap masuk ke dalam untuk tidur saat kita tidak melihatnya.'' tukas Ibuku sambil mendelik padaku.
''Tapi...'' kataku namun suaraku terputus. Aku benar-benar yakin kalau suara dibawah itu bukan tupai ataupun kucing. Aku tidak pernah mendengar binatang apapun membuat suara menyeramkan seperti itu.
Ibuku tidak peduli. Dia mengambil sebuah senter diatas lemari pendingin lalu berjalan masuk ke dalam ruang bawah tanah itu. Aku dan Billy yang masih terlalu takut hanya bisa menunggu di depan pintu samping rumah berharap ibu kami tidak apa-apa. Lima menit berlalu dan ibuku belum kembali juga. Aku mulai merasa kuatir.
''Ma???'' panggilku. Aku berjalan sedikit mendekat kearah pintu ruang bawah tanah yang sedikit terbuka. Billy mengikutiku dengan ragu dari belakang. Tidak lama kemudian aku mendengar langkah-langkah cepat menaiki anak tangga dan ibuku muncul dihadapan kami dengan wajah pucat luar biasa. Dia langsung membanting pintu ruang bawah tanah itu dengan keras sampai tertutup lalu menguncinya.
''Ayo... kita harus keluar dari sini'' kata Ibuku. Dia langsung menarik tangan kami berdua dan membawa kami keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.
''Ma... Apa yang kau lihat dibawah sana???'' kataku dengan heran sekaligus ngeri melihat ekspresi ketakutan luar biasa di wajah ibuku. Ibuku tidak menjawab. Wajahnya tampak pucat. Kami terus berlari sampai kami tiba dirumah tetangga kami disebelah halaman samping. Ibuku lalu meminjam telepon dan menelepon polisi. Beberapa menit kemudian dua buah mobil patroli datang. Ibuku langsung menyambut mereka. Setelah menyuruh aku dan adikku untuk tinggal sementara dirumah tetangga kami, ibuku lalu menemani polisi-polisi tersebut kembali kerumah kami. Kami menunggu dan menunggu sampai akhirnya kami berdua tertidur karena kelelahan. Keesokan paginya aku terbangun dan dari jendela kamar tidur anak tetangga kami aku bisa melihat orang-orang berjalan keluar masuk ke dalam rumah kami. Aku lalu mandi dan berganti pakaian. Saat itulah aku melihat ayah dan ibuku sedang duduk berdua dengan tetangga kami membicarakan sesuatu. Rupanya kedua orang tuaku memutuskan untuk keluar dan pindah hari itu juga. Orang-orang yang kulihat di halaman rumah kami rupanya adalah orang-orang yang disewa ayahku untuk memindahkan rumah seluruh isi rumah kami ke tempat yang akan kami tinggali untuk sementara waktu. Ibuku menolak untuk memberi tahu kami apa sebenarnya yang dilihatnya di ruang bawah tanah malam itu. Apa sebenarnya yang membuatnya begitu ketakutan sehingga dia memutuskan untuk pindah keesokan harinya setelah ayahku pulang padahal kami baru saja menenempati rumah itu kurang lebih dua bulan lamanya. Ibuku menolak untuk bercerita kepada aku dan adikku selama bertahun-tahun sampai akhirnya kami sudah lupa sama sekali pada peristiwa itu. Suatu malam, delapan tahun setelah peristiwa itu, aku dan ayahku sedang bermain billiard dirumah kami yang baru ketika tiba-tiba ku teringat peristiwa malam itu di ruang bawah tanah. Aku langsung bertanya kepada ayahku apa sebenarnya yang dilihat ibuku pada malam itu. Apa yang membuatnya begitu sangat ketakutan. Ayahku lalu bercerita, menurut ibuku setelah dia mendengar kami menjerit ketakutan karena mendengar sesuatu di dalam sana. Ibuku langsung turun untuk memeriksanya. Awalnya dia tidak melihat atau mendengar apapun. Ibuku mencari sakelar lampu dan memencetnya berulang-ulang tapi lampunya tidak menyala juga. Ibuku mulai mengarahkan senternya keseluruh ruangan saat dia mendengar suara itu. Suara berkeretekan seperti napas orang menjelang ajal yang juga di dengar olehku dan adikku. Ibuku lalu berjalan masuk ke bagian tidak terpakai diruang bawah tanah itu untuk mengusir, menurut ibuku, rakun yang mungkin sudah bersarang di dalam sana. Saat ibuku semakin masuk ke dalam, dia mencium bau busuk menyengat yang membuatnya berjengit dan sesak napas. Menurut ayahku, ibuku masih ingat bagaimana bau itu membuat kepalanya pusing dan gelisah. Di saat itulah ibuku melihat sesuatu bergerak di sudut ruang bawah tanah yang gelap, saat dia mengarahkan senternya untuk melihat lebih jelas, dia melihat sesuatu yang mengerikan yang masih membuatnya takut sampai sekarang kalau mengingatnya. Disana, disudut ruang bawah tanah yang sempit, gelap dan kotor itu, ibuku melihat seorang pria dengan pakaian compang camping merangkak dilantai pada kedua tangan dan kakinya seperti seekor hewan melata. Tubuh pria itu penuh luka yang tampak mengerikan dimana-mana. Dan kemudian pria itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah ibuku. Ibuku tidak akan pernah lupa pada tatapan pria menyeramkan itu. Menurut ibuku wajah pria itu tidak simetris seakan-akan sesuatu yang keras telah menghantamnya dari segala sisi. Salah satu pipinya menjorok masuk ke dalam rongga kepalanya. Dagunya tampak panjang dan runcing. Namun yang paling menyeramkan dari pria itu adalah tatapan matanya. Matanya tampak putih tanpa warna hitam sama sekali. Pria itu menatap ibuku selama beberapa saat dengan mulut menganga. Ibuku terlalu terkejut dan takut dia hanya bisa menatap. Saat pria itu merangkak dengan gerakan menyeramkan mendekati ibuku, saat itulah ibuku langsung berlari secepat kilat ke lantai atas dan membawa kami keluar dari rumah itu. Saat polisi datang dan menggeledah rumah itu, mereka tidak menemukan apapun. Tapi ibuku sudah terlanjur takut dan dia memutuskan untuk segera keluar dari situ keesokan harinya. Ayahku lalu mencari tahu mengenai sejarah rumah itu beberapa saat setelah kami menempati rumah kami yang baru. Menurut ayahku, seratus tahun yang lalu saat rumah itu baru dibangun, sebuah keluarga bangsawan belanda langsung menempati rumah itu dengan seorang anak gadis mereka. Saat itu perbudakan masih merupakan hal yang wajar di kota itu dan keluarga tersebut memiliki beberapa budak kulit hitam untuk melayani mereka. Salah satu budak mereka adalah seorang pemuda bernama Mato. Mato jatuh cinta pada gadis yang tidak lain adalah anak majikannya sendiri. Sampai suatu hari gadis itu hamil. Merasa sangat dipermalukan, ayah si gadis menyekap Mato di dalam ruang bawah tanah itu lalu mematahkan kedua tangan dan kakinya sampai akhirnya pukulan yang bertubi-tubi membuat nyawa Mato melayang. Hal ini menjelaskan cara jalan hantu Mato yang aneh, merangkak seperti seekor hewan dilantai, dan luka disekujur tubuhnya saat ibuku melihatnya malam itu. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak peristiwa diruang bawah tanah itu dan ibuku kadang-kadang masih bermimpi buruk tentang hantu Mato yang dilihatnya malam itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar